Sabtu, 14 November 2015

INDIVIDU KELUARGA & MASYARAKAT



 INDIVIDU
1.Pengertian Individu

Individu berasal dari kata yunani yaitu “individium” yang artinya “tidak terbagi”. Dalam ilmu sosial paham individu, menyangkut tabiat dengan kehidupan dan jiwa yang majemuk, memegang peranan dalam pergaulan hidup manusia. Individu merupakan kesatuan yang terbatas yaitu sebagai manusia perseorangan bukan sebagai manusia keseluruhan. Maka dapat disimpulkan bahwa individu adalah manusia yang memiliki peranan khas atau spesifik dalam kepribadiannya. Dan terdapat tiga aspek dalam individu yaitu aspek organik jasmaniah, aspek psikis rohaniah, dan aspek sosial. Dimana aspek aspek tersebut saling berhubungan. Apabila salah satu rusak maka akan merusak aspek lainnya. Apabila pola tingkah lakunya hampir identik dengan tingkah laku massa yang bersangkutan. Proses yang meningkatakan ciri-ciri individualitas pada seseorang sampai pada dirinya sendiri, disebut proses individualisasi atau aktualisasi diri. Dalam proses ini maka individu terbebani berbagai peranan yang berasal dari kondisi kebersamaan hidup, yang akhirnya muncul suatu kelompok yang akan menentukan kemantapan satu masayarakat. Individu dalam tingkah laku menurut pola pribadinya ada tiga kemungkinan: pertama menyimpang dari norma kolektif kehilangan individualitasnya. Kedua takluk terhadap kolektif, dan ketiga mempengaruhi masyarakat. (Hartomo, 2004: 64). Dengan demikian manusia merupakan mahluk individual tidak hanya dalam arti keseluruhan jiwa-raga, tetapi merupakan pribadi yang khas, menurut corak kepribadiannya dan kecakapannya.

2.Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan individu
-Faktor Biologis
Semua manusia normal dan sehat pasti memiliki anggota tubuh yang utuh seperti kepala, tangan, kaki dan lainya. Hal ini dapat menjelaskan bahwa beberapa persamaan dalam kepribadian dan perilaku. Namun ada warisan biologis yang bersifat khusus. Artinya, setiap individu tidak semua ada yang memiliki karakteristik fisik yang sama.
-Faktor Geografis
Setiap lingkungan fisik yang baik akan membawa kebaikan pula pada penghuninya. Sehingga menyebabkan hubungan antar individu bisa berjalan dengan baik dan mencimbulkan kepribadian setiap individu yang baik juga. Namun jika lingkungan fisiknya kurang baik dan tidak adanya hubungan baik dengan individu yang lain, maka akan tercipta suatu keadaan yang tidak baik pula.
 -Faktor Kebudayaan Khusus
Perbedaan kebuadayaan dapat mempengaruhi kepribadian anggotanya. Namun, tidak berarti semua individu yang ada didalam masyarakat yang memiliki kebudayaan yang sama juga memiliki kepribadian yang sama juga.

3.Pengertian Keluarga
Terdapat beberapa definisi keluarga dari beberapa sumber, yaitu:
·         Keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran, dan adopsi yang bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan budaya, dan meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, serta sosial dari tiap anggota keluarga (Duvall dan Logan, 1986).
·         Keluarga adalah dua atau lebih individu yang hidup dalam satu rumah tangga karena adanya hubungan darah, perkawinan, atau adopsi. Mereka saling berinteraksi satu dengan yang lain, mempunyai peran masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu budaya (Bailon dan Maglaya,1978 )
·          Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan (Departemen Kesehatan RI, 1988). 

4.Fungsi Keluarga
Terdapat 5 fungsi keluarga dalam tatanan masyarakat, yaitu :
-Fungsi Biologis
1.      Untuk meneruskan keturunan
2.      Memelihara dan membesarkan anak
3.       Memberikan makanan bagi keluarga dan memenuhi kebutuhan gizi
4.       Merawat dan melindungi kesehatan para anggotanya
5.      Memberi kesempatan untuk berekreasi
-Fungsi Psikologis 
A.    Identitas keluarga serta rasa aman dan kasih sayang 
B.      Pendewasaan kepribadian bagi para anggotanya 
C.     Perlindungan secara psikologis
D.     Mengadakan hubungan keluarga dengan keluarga lain atau masyarakat
-Fungsi Sosial Budaya atau Sosiologi
1.      Meneruskan nilai-nilai budaya
2.      Sosialisasi
3.      Pembentukan noema-norma, tingkah laku pada tiap tahap perkembangan anak serta kehidupan keluarga
-Fungsi Sosial
1.      Mencari sumber-sumber untuk memenuhi fungsi lainnya
2.       Pembagian sumber-sumber tersebut untuk pengeluaran atau tabungan
3.      Pengaturan ekonomi atau keuangan


-Fungsi Pendidikan
Ø  Penanaman keterampilan, tingkah laku dan pengetahuan dalam hubungan dengan fungsi-fungsi lain.
Ø   Persiapan untuk kehidupan dewasa.
Ø  Memenuhi peranan sehingga anggota keluarga yang dewasa.
Ø   
5.Pengertian Masyarakat
Masyarakat (society) diartikan sebagai sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Kata "masyarakat" sendiri berakar dari kata dalam bahasa Arab, musyarak. Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas-entitas. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain). Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur.

6.Golongan-Golongan Masyarakat
-Kekayaan : Ukuran kekayaan dapat digunakan sebagai ukuran strata sosial seseorang. Semakin banyak seseorang memiliki materi kekayaan, maka ia akan semakin tinggi strata sosialnya. Contoh : Villa, Mobil, Tabungan dan lain-lain.
-Kehormatan : Ukuran kehormatan ini sangat nampakpada masyarakat tradisional, biasanya mereka sangat menghormati orang-orang yang berjasa kepada masyarakat, orang tua serta orang-orang yang berbudi luhur. Orang-orang yang dihormati akan menempati lapisan sosial atas dalam sistem pelapisan sosial masyarakat.
-Kekuasaan dan wewenang : Seseorang yang memiliki kekuasaan dan wewenang terbesar, ia akan menempati lapisan sosial tertinggi Contoh : Bupati, Kepala desa dan lain-lain.
-Ilmu pengetahuan : Ukuran ini sering dipakai oleh para anggota masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Seseorang yang paling luas menguasai ilmu pengetahuan, ia akan menempati lapisan sosial tertinggi di masyarakatnya. Contoh : Guru, Profesor, Dokter dan lain-lain.


PEMUDA & SOSIALISASI



 1.Pengertian Pemuda
Pemuda adalah golongan manusia manusia muda yang masih memerlukan pembinaan dan pengembangan kearah yang lebih baik, agar dapat melanjutkan dan mengisi pembangunan yang kini telah berlangsung, pemuda di Indonesia dewasa ini sangat beraneka ragam, terutama bila dikaitkan dengan kesempatan pendidikan. Keragaman tersebut pada dasarnya tidak mengakibatkan perbedaan dalam pembinaan dan pengemban gangenerasi muda.
Proses kehidupan yang dialami oleh para pemuda Indonesia tiap hari baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat membawa pengaruh yang besar pula dalam membina sikap untuk dapat hidup di masyarakat. Proses demikian itu bisa disebut dengan istilah sosialisasi, proses sosialisasi itu berlangsung sejak anak ada di dunia dan terus akan berproses hingga mencapai titik kulminasi.

2.Pengertian Sosialisasi Pemuda
Melalui proses sosialisasi, seorang pemuda akan terwarnai cara berpikir dan kebiasaan-kebiasaan hidupnya. Dengan demikian, tingkah laku seseorang akan dapat diramalkan. Dengan proses sosialisasi, seseorang menjadi tahu bagaimana ia mesti bertingkah laku di tengah-tengah masyarakat dan lingkungan budayanya. Dari keadaan tidak atau belum tersosialisasi, menjadi manusia masyarakat dan beradab. Kedirian dan kepribadian melalui proses sosialisasi dapat terbentuk. Dalam hal ini sosialisasi diartikan sebagai proses yang membantu individu melalui belajar dan menyesuaikan diri, bagaiman cari hidup dan bagaimana cara berpikir kelompoknya gar dapat berperan dan berfungsi dalam kelompoknya. Sosialisasi merupakan salah satu proses belajar kebudayaan dari anggota masyarakat dan hubungannya dengan sistem sosial.

3.Proses Terjadinya Sosialisasi
Proses sosialisasi adalah proses pembentukan sikap loyalitas sosial. Loyalitas sosial atau kesetiaan sosial adalah perkembangan dari sikap saling menerima dan saling memberi kearah ang lebih baik. Kita sangat mudah melihatnya pembentukan kesetiaan sosial ini adalah dalam keluarga. Setiap anggota keluarga selalu setia sesamanya.
pertama kita harus saling berkomunikasi baik dalam keadaan berdekatan ataupun dalam keadaan berjauhan (tempat tinggal). Dengan komunikasi yang teratur kita akan saling mengetahui kabar dan berita di antara kita. Sakit atau senang diantara kita dapat dengan cepat kita mengetahuinya.
Kedua, sering bekerja sama menyelesaikan berbagai persoalan hidup. Misalnya bergotong royang atau melakukan arisan. Kerja sama dapat saja dilakukan dalam kelompok kecil(minimal dua orang) atau pun dalam kelompok yang besar (yang jumlah anggotanya banyak).
Ketiga, dalam kehidupan atau pergaulan sesama kita, sikap tolong menolong harus dikembangkan. Berbagai kesulitan hidup yang kita alami pantas kita minta tolong kepada orang lain atau teman. Begitu pula sebaliknya bila kawan kita yang mengalami kesusahan wajib pula kita membantunya. Tentu saja dasarnya adalah suka saling menerima dan memberi.

4. Peranan sosial mahasiswa dan pemuda di masyarakat
Pada masa 1990 sampai 2000-an demonstrasi masih marak di berbagai tempat. Pada masa itu mahasiswa dan pemuda menyebutkan dirinya sebagai Gerakan Moral. Sedangkan pada mahasiswa yang lain gerakan mahasiswa menyebutkan dirinya sebagai gerakan Politik. Mahasiswa menjadi pecah dan terkadang pragmatis. Tidak menjadi rahasia umum lagi mahasiswa dibayar untuk berdemonstrasi.
Sebelum terlalu jauh meneropong peranan mahasiswa di luar kampus– walaupun klise– sebaiknya kita mesti ingat bahwa tugas utama mahasiswa dan pemuda adalah belajar di sekolah/kampus.
Peranan sosial mahasiswa dan pemuda di masyarakat, kurang lebih sama dengan peran warga yang lainnnya di masyarakat. Mahasiswa mendapat tempat istimewa karena mereka dianggap kaum intelektual yang sedang menempuh pendidikan. Pada saatnya nanti sewaktu mahasiswa lulus kuliah, ia akan mencari kerja dan menempuh kehidupan yang relatif sama dengan warga yang lain.
Bisakah mahasiswa beranjak menuju gerakan pemikiran dan gerakan transformasi?
Dasar Pemikiran neoliberalisme “pasar adalah tuan dan negara adalah pelayan” salah satu contoh yang paling baru mengenai kekalahan negara/pemerintah terhadap pasar adalah harga minyak yang naik.
Paradigma pasar mengubah cara berpikir dan persepsi masyarakat. Dominasi kapitalisme memutarbalikkan hubungan antara masyarakat (sosial) dan Pasar (ekonomi) (Polanyi, 1957).
Pada awal beroperasinya kapitalisme, pasar merupakan bagian dari masyarakat. Operasionaliasi norma-norma pasar berakar dan dibatasi norma sosial, kultural, dan politik. Masyarakat merupakan pemegang kunci dalam hubungan sosial dan ekconomi. Tapi ketika kapitalisme mendominasi, keberadaan pasar telah berbalik 180 derajat, masyarakatlah yang menjadi bagian dari pasar. kehidupan sehari-hari pun direduksi menjadi bisnis dan pasar.
Secara tak sadar namun perlahan tapi pasti, para generasi muda dihinggapi dengan idiologi baru dan perilaku umum yang mendidik mereka menjadi bermental instan dan bermental bos. Pemuda menjadi malas bekerja dan malas mengatasi kesulitan, hambatan dan proses pembelajaran tidak diutamakan sehingga etos kerja jadi lemah.
Sarana tempat hiburan tumbuh pesat bak “jamur di musim hujan” arena billyard, playstation, atau arena hiburan ketangkasan lainnya, hanyalah tempat bagi anak-anak dan generasi muda membuang waktu secara percuma karena menarik perhatian dan waktu mereka yang semestinya diisi dengan lebih banyak untuk belajar, membaca buku di perpustakaan, berorganisasi .
Peran pemuda yang seperti ini adalah peran sebagai konsumen saja, pemuda dan mahasiswa berperan sebagai “penikmat” bukan yang berkontemplasi (pencipta karya). 

Sudah 65 tahun lebih bangsa Indonesia merdeka, sistem pendidikan telah dibaharui agar mampu menjawab berbagai perubahan diseputaran kehidupan umat manusia. Tetapi selesai kuliah barisan penganggur berderet-deret. Para penganggur dan setengah penganggur yang tinggi merupakan pemborosan-pemborosan sumber daya, mereka menjadi beban keluarga dan masyarakat, sumber utama kemiskinan yang dapat mendorong peningkatan keresahan sosial dan kriminal dan penghambat pembangunan dalam jangka panjang.

ü  STUDI KASUS
JAKARTA - Meningkatnya budaya seks bebas di kalangan pelajar mulai mengancam masa depan bangsa Indonesia. Bahkan perilaku seks pra nikah tersebut dari tahun ke tahun meningkat.

Pendataan yang dilakukan oleh Direktur Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Masri Muadz, menunjukan kasus tersebut menunjukkan peningkatan yang semakin miris bagi kita.

Menurut penuturan Masri kepada okezone, belum lama ini, Wimpie Pangkahila pada tahun 1996 melakukan penelitian terhadap remaja SMA di Bali. Dia mengambil sampling 633. Kesemuanya memiliki pengalaman berhubungan seks pra nikah, dengan persentase perempuan 18% dan 27% laki-laki. Sedangkan penelitian Situmorang tahun 2001 mencatat, laki-laki dan perempuan di Medan mengatakan sudah melakukan hubungan seks dengan komposisi, 9% perempuan dan 27% laki-laki.

Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI) di tahun 2002-2003, remaja mengatakan mempunyai teman yang pernah berhubungan seksual pada: usia 14-19 tahun, perempuan 34,7%, laki-laki 30,9%. Sedangkan pada usia 20-24 tahun perempuan 48,6% dan laki-laki 46,5%.

SKRRI pun melanjutkan analisanya pada tahun 2003 dengan memetakan beberapa faktor yang mempengaruhi mereka melakukan seks pra nikah.

Menurut SKRRI, faktornya yang paling mempengaruhi remaja untuk melakukan hubungan seksual antara lain: Pertama, pengaruh teman sebaya atau punya pacar. Kedua, punya teman yang setuju dengan hubungan seks para nikah. Ketiga, punya teman yang mendorong untuk melakukan seks pra nikah.

Di tahun 2005 Yayasan DKT Indonesia melakukan penelitian yang sama. DKT memfokuskan penelitiannya di empat kota besar antara lain: Jabodetabek, Bandung, Surabaya, dan Medan.

Berdasarkan norma yang dianut, 89% remaja tidak setuju adanya seks pra nikah. Namun, kenyataannya yang terjadi di lapangan, pertama, 82% remaja punya teman yang melakukan seks pra nikah. Kedua, 66% remaja punya teman yang hamil sebelum menikah. Ketiga, remaja secara terbuka menyatakan melakukan seks pra nikah.

Persentase tersebut menunjukkan angka yang fantastis. Jabodetabek 51%, Bandung 54% Surabaya 47% dan Medan 52%.

Tahun 2006, PKBI menyebutkan, pertama, kisaran umur pertama kali yakni 13-18 tahun melakukan hubungan seks. Kedua, 60% tidak menggunakan alat atau obat kontrasepsi. Ketiga, 85% dilakukan di rumah sendiri.

Sementara merujuk pada data Terry Hull dkk (1993) dan Utomo dkk (2001), PKBI menyebutkan, 2,5 juta perempuan pernah melakukan aborsi per tahun dan 27% atau kurang lebih 700 ribu remaja dan sebagian besar dengan tidak aman. Selain itu 30-35% aborsi penyumbang kematian ibu.

Pada 2007 SKRRI melakukan penelitian kembali. Penelitian tersebut menunjukkan peningkatatan yang drastis. Pertama, perilaku seks pranikah remaja cenderung terus meningkat dan kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) juga terjadi pada remaja. Kedua, jumlah kelompok remaja Indonesia yang menginginkan pelayanan Keluarga Berencana (KB) diberikan kepada mereka. Ketiga, meningkat jauh dari SKRRI 2002.

Keempat, jumlah remaja 15-24 tahun sekira 42 juta jiwa, berarti sekira 37 juta jiwa remaja membutuhkan alokon tidak terpenuhi (unmet need berKB kelompok remaja).

Kelima, kelompok ini akan tetap menjadi unmet need. Sebab dalam undang-undang No 10 tahun 1992, pelayanan KB hanya diperuntukkan bagi pasangan suami istri, sesuai dengan pemilihannya.

Bahkan, temuan Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan serta Pusat Penelitian Bisnis dan Humaniora (LSCK-PUSBIH) di tahun 2008 lebih mengagetkan lagi. LSCK-PUSBIH melakukan penelitian terhadap 1.660 mahasiswi di Yogyakarta.

Hasil yang mereka dapatkan, 97,05% mahasiswi di Yogyakarta sudah hilang kegadisannya dan 98 orang mengaku pernah melakukan aborsi.

Penelitian Komnas Perlindungan Anak (KPAI) di 33 Provinsi pada bulan Januari-Juni 2008 menyimpulkan empat hal: Pertama, 97% remaja SMP dan SMA pernah menonton film porno. Kedua, 93,7% remaja SMP dan SMA pernah ciuman, genital stimulation (meraba alat kelamin) dan oral seks. Ketiga, 62,7% remaja SMP tidak perawan. Dan yang terakhir, 21,2% remaja mengaku pernah aborsi.

Dari sekian lembaga penelitian di atas, menurut Masri, semua elemen harus ikut telibat memberi andil mencari solusi meminimalisir perilaku seks pra nikah. “Budaya ini diam-diam mengancam bangsa Indonesia. Tentu ini membutuhkan penanganan khusus demi mengembalikan budaya timur,” tuturnya.

Sumber Berita : okezone.com

Cara untuk mencegah dan mengurangi pengaruh buruk dari media sosial seperti :
- Pembinaan dan pengembangan sikap generasi muda.
- Adanya pengawasan orang tua
- Ditanamkan moral-moral agama
- Adanya sosialisasi tentang pemahaman bahaya media sosial dan cara pemanfaatan media sosial yang baik

Kesimpulan dari studi kasus diatas adalah pemuda dan sosialisasi merupakan suatu hal yang berkaitan erat di dalam hidup ini, dimana para pemuda harus ikut aktif dalam berperan di kehidupan sehari-hari. Sosok pemuda di negeri ini sangat dibutuhkan untuk kemajuan hidup bersama membangun negeri ini.Para pemuda dan pemudi berperan sebagai penerus bangsa yang harus meneruskan cita-cita para leluhur kami. Berfikir secara kritis dan berjiwa sosial merupakan hal penting yang harus ditanamkan dalam diri masing-masing. Oleh karena itu sebagai penerus bangsa ini, hendaknya kita selalu berfikir dan bertindak secara positif dalam menangani hal dan keadaan apapun .

http://shuresarwasyi.blogspot.co.id/2015/01/studi-kasus-dan-analisis-pemuda-dan-sosialisasi.html

Jumat, 16 Oktober 2015

Ilmu Sosial Dasar



DEA GUSTRIARIN M
11115621

A.   ISD sebagai salah satu MKDU

Menghadapi masalah-masalah dalam penyelenggaraan tridarma perguruan tinggi, demikian pula untuk memenuhi tuntutan masyarakat dan Negara, maka diselenggarakan program-program pendidikan umum. Tujuan pendidikan umum di perguruan tinggi adalah :
1.     Sebagai usaha membatu perkembangan kepribadian mahasiswa agar mampu berperan sebagai anggota masyarakat dan bangsa serta agama
2.     Untuk menumbuhkan kepekaan mahasiswa terhadap masalah masalah dan     kenyataan social yang ada di dalam masyarakat Indonesia
3.     Memberikan pengetahuan dasar kepada mahasiwa agar mereka mampu berpikir secara interdisipliner, dan mampu memahami pikiran para ahli dalam berbagai ilmu pengetahun sehingga memudahkan mereka dalam berkomunikasi.
Jadi, pendidikan umum yang mengembangkan kepribadian mahasiswa pada dasarnya berbeda dengan mata kuliah bantu yang lain. Demikian juga berbeda dengan pendidikan keahlian yang dapat mengembangkan keahlian mahasiswa dalam bidang atau disiplin ilmunya.
Ilmu sosial dasar adalah salah satu mata kuliah dasar umum yang merupakan mata kuliah wajib yang diberikan di perguruaan tinggi negeri maupun swasta. Bertujuan semata-mata sebagai salah satu usaha yang diharapkan dapet memberikan bekal kepada mahasiswa untuk dapat peduli terhadap masalah-masalah social dilingkungan dan dapat memecahkan permasalahan tersebut menggunakan pendekatan ilmu social dasar.
Secara khusus mata kuliah dasar umum bertujuan untuk menghasilkan warga Negara sarjana yang :
1.     Berjiwa Pancasila sehingga segala keputusan serta tindakannya  mencerminkan pengamalan nilai-nilai pancasila dan memiliki nilai intergritas  kepribadian yang tinggi
2.     Taqwa terhadap Tuhan yang Maha Esa, bertindak sesuai ajaran agama dan memiliki rasa toleransi
3.     Memiliki wawasan komprehensif dan pendekatan integral didalam menyikapi      permasalahan kehidupan baik social, politik maupun pertahanan Negara
4.     Memiliki wawasan budaya yang luas tentang kehidupan bermasyarakat

Þ     Latar Belakang, Pengertian dan Tujuan ISD

Latar belakang diberikannya ISD adlah banyaknya kritik yang ditujukan pada system pendidikan kita oleh sejumlah para cendikiawan, terutama sarjana pendidikan, social dan kebudayaan. System pendidikan yang diraskan masih berbau colonial dan masih merupakan warisan system pendidikan pemerintahan belanda. Ternyata sekarang masih dirasakan banyaknya tenaga ahli yang berpengetahuan keahlian khusus dan mendalam, sehingga wawasannya sempit.
Pendidikan tinggi diharapkan dapat menghasilkan sarjana-sarjana yang mempunyai seperangkat pengetahuan yang terdiri atas.
1.     Kemampuan Akademis, adalah kemampuan untuk berkomunikasi secara            ilmiah, baik lisan maupun tulisan, menguasai peralatan analisis, maupun berpikir  logis,kritis,sistematis, dan analiti serta mampu menawarkan alternative  pemecahannya
2.     Kemampuan Professional, adalah kemampuan dalam bidang  profesi tenaga ahli yang bersangkutan
3.     Kemampuan Personal, adalah kemampuan kepribadian. Dengan kemampuan ini para tenaga ahli diharapkan memiliki pengetahuan sehingga mampu menunjukkan sikap, dan tingkah laku serta memiliki pandangan yang luas dan kepekaan dari berbagai masalah yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia
Dengan seperangkat kemampuan yang dimiliki lulusan perguruan tinggi diharapkan menjadi sarjana yang cakap, ahli dalam bidang yang di tekuninya serta mau dan mampu mengabdikan keahliannya untuk kepentingan masyarakat Indoneisa dan umat manusia pada umumnya.
Sebagai salah satu mata kuliah umum, ISD bertujuan membantu kepekaan wawasan pemikiran dan kepribadian mahasiswa agar memperoleh wawasan pemikiran yang lebih luas. Tegasnya Ilmu social dasar adalah usaha yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji gejala-gejala social agar penalaran mahasiswa terhadap lingkungannya dapat ditingkatkan.
Ilmu pengetahuan dikelompokan dalam 3 kelompok besar yaitu :
1.     Ilmu-Ilmu Alamiah
2.     Ilmu-Ilmu Social
3.     Pengetahuan Budaya
Kehidupan manusia sebagai makhluk social selalu dihadapkan kepada berbagai masalah social yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Yang membedakan masalah social dengan masalah lainnyaadalh bahwa masalah social selalu ada kaitannya dengan hubungan-hubungan manusia itu terwujud. Masalah social menurut masyarakat adalah segala sesuatu yang menyangkut kepentingan umum sedangkan menurut para ahli adalah suatu kondisi atau perkembangan yang terwujud dalam masyarakat yang berdasarkan atas studi,mempunyai sifat yang dapat menimbulkan kekacauan terhadap kehidupam warga masyarakat secara keseluruhan.
Contoh pedagang kaki lima. Menurut definisi umum, pedagang kaki lima bukan masalah social karena merupakan upaya mencari nafkah untuk kelangsungan hidupnya, dan pelayanan bagi warga masyarakat pada taraf ekonomi tertentu. Sebaliknya para ahli perencenaan kota menyatakan pedagang kaki lima sebagai sumber kekacauan lalu lintas dan peluang kejahatan. Lesile (1974) bahwa masalah social adalah suatu kondisi yang mempunyai pengaruh kepada kehidupan sebagian besar warga masyarakat sebagai sesuatu yang tidak diinginkan atau tidak disukai,oleh karena itu dirasakan perlunya untuk diatasi atau diperbaiki.

B.   Penduduk, Masyarakat dan Kebudayaan

Penduduk, Masyarkat dan Kebudayaan adalah konsep-konsep yang pertautannya satu sama lain sangat berdekatan.Penduduk adalah pengertian luas diartikan sebagai sekelompok organisme sejenis yang berkembang biak dalam suatu daerah tertentu. Masyarakat adalah suatu kesatuan kehidupan social manusia yang menempati wilayah tertentu,yang keteraturannya dalam kehidupan sosialnya telah dimungkinkan karena memiliki pranata social yang telah menjadi tradisi dan mengatur kehidupannya. Kebudayaan merupakan hasil budi daya manusia, ada yang mendefinisikan sebagai semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat. Hubungan antara masyarakat dan kebudayaan, ini merupakan dwi tunggal, hubungan dua yang satu dalam arti bahwa kebudayaan merupakan hasil dari suatu masyarkat, kebudayaan hanya akan bisa lahir, tumbuh dan berkembang dalam masyarakat.

Þ     Penduduk dan Permasalahannya
Malthus(1978) mengemukakan adanya dua persoalan pokok, yaitu bahwa bahan makanan adalah penting untuk kehidupan manusia dan nafsu manusia tidak dapat ditahan. Berlipat gandanya penduduk itu dari deret ukur, sedangkan berlipat gandanya bahan makanan menurut deret hitung, sehingga pada suatu saat akan timbul persoalan-persoalan yang berhubungan dengan penduduk. Oleh karena itu,penduduk di dunia itu bertambah karena kelahiran lebih besar dari kematian, sehingga tingkat kelahiran lebih besar dari tingkat kematian. Ini disebabkan karena manusia sebagai mahkluk hidup akan selalu berusaha agar mempunyai keturunan dan memperjuangkan hidupnya untuk dapat hidup panjang dan ini sering dikenal dengan teori alam tentang pertumbuhan penduduk.

Þ     Dinamika Penduduk
Dinamika penduduk menunjukkan adanya factor perubahan dalam hal jumlah penduduk yang di sebabkan oleh adanya pertumbuhan penduduk. Penduduk bertambah tidak lain karena adanya unsure lahir, mati, datang dan pergi dari penduduk itu sendiri. Unsur penentu dalam pertambahan penduduk adalah tingkat fertilitas dan tingkat mortalitas. Apa itu fertilitas dan mortalitas?
ü  Fertilitas adalah tingkst pertambahan anak yang dihitung dari jumlah kelahiran setiap seribu penduduk dalam satu tahun.
ü  Mortalitas adalah jumlah kematian pertahun perseribu penduduk

Þ     Komposisi Penduduk
Sensus penduduk yang diadakan 10 tahun sekali oleh pemerintah kita, bukan hanya menghitung jumlah penduduk saja tetapi juga mendata tentang umur penduduk,jenis kelamin penduduk, tongkat pendidikan penduduk, jenis mata pencaharian dan sebagainya. Dengan mengetahui komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin dapat dibuat suatu piramida penduduk.Golongan laki laki ada disebelah kiri dan golongan perempuan ada di sebelah kanan. Bilamana berdasarkan komposisinya piramida penduduk dibedakan atas :
Ø  Penduduk Muda yaitu penduduk dalam pertumbuhan, alasannya lebih besar dan ujungnya runcing, jumlah kelahiran lebih besar dari jumlah kematian
Ø  Piramida Penduduk Tua yaitu piramida penduduk yang menggambarkan penduduk dalam kemunduran, ini menunjukan bahwa penduduk usia muda jumlahnya lebih kecil dobandingkan dengan penduduk dewasa. Disini angka kelahiran lebih kecil dari kematian hal ini menjadi masalah, sebab memungkinkan penduduk akan musnah.


Þ     Persebaran Penduduk
Kecenderungan manusia untuk memilih daerah yang subur untuk tempat tinggalnya, terjadi sejak pola hidup masih sangat sederhana. Daerah semacam inilah yang kemudian berkembang menjadi daerah perkotaan, daerah tempat pemerintahan, daerah perdagangan dan sebagainnya. Prinsip tempat tinggal mendekati tempat bekerja yang secara langsung atau tidak, menimbulkan ketidakseimbangan penduduk ditiap-tiap daerah. Sehingga terjadi daerah yang berpenduduk padat. Dari prinsip itulah kemudian terjadi perpindahan penduduk dari satu daerah ke daerah lain.

Þ     Perkembangan dan Perubahan Kebudayaan
Kebudayaan selalu dimiliki oleh setiap masyarakat. Kebudayaan itu merupakan keseluruhan ari pengetahuan manusia sebagai mahkluk social, yang digunakan untuk menginterprestasikan dan memahami lingkungan yang dihadapi, untuk memenuhi segala kebutuhannya serta mendorong terwujudnya kelakuan manusia itu sendiri. Atas dasar itulah para ahli mengemukakan adanya unsure kebudayaan yang umumnya di perinci menjadi 7 unsur yaitu :
1.     Unsur religi
2.     Sistem kemasyarakatan
3.     System peralatan
4.     System mata pencaharian hidup
5.     System bahasa
6.     System pengetahuan
7.     Seni
Kebudyaan memiliki 3 wujud, yaitu :
1.     Wujud sebagai kompleks dari ide, gagasan, norma, peraturan dan sejenisnya.
2.     Kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia         dalam masyarakat
3.     Kebudayaan sebagai benda hasil karya manusia
Tidak ada kebudayaan yang statis, setiap perubahan kebudayaan mempunyai dinamika, mengalami perubahan. Perubahan itu akibat dari perubahan masyarakat yang menjadi wadah kebudayaan tersebut.


Kebudayaan Hindu dan Budha
Pada abad ke-3 dan ke-4 agama hindu masuk ke Indonesia khususnya ke pulau jawa. Perpaduan antara kebudayaan setempat dengan kebudayaan Hindu yang berasal dari India itu berlangsung luwes dan mantap. Sekitar abad ke-5, ajaran budha atau budhisme masuk ke Indonesia, khususnya ke pulau jawa. Agama budha dapat dikatakan berpandangan lebih maju dari pada hinduisme. Walaupun demikian, kedua agama itu di Indonesia, khususnya pulau jawa tumbuh dan berkembang dengan damai.

Kebudayaan Islam
Pada abda ke-15 dan ke-16, agama islam telah dikembangkan di Indonesia, oleh para pemuka-pemuka Islam yang disebut wali songo. Titik sentral penyebaran agama islam pada abad itu berada di pulau jawa. Masuknya agama islam ke Indonesia, teristimewa ke pulau jawa berlangsung dalam suasana damai. Ketika kejayaan majapahit mulai surut, berkembanglah Negara-negara pantau yang dapat merongsong kekuasaan dan kewibawaan Majapahit yang berpusat pemerintahan di pedalaman. Di daerah daerah yang belum amat terpengaruh oleh kebudayaan hindu, agama islam mempunyai pengaruh yang mendalam dalam kehidupan penduduk di daerah yang bersangkutan. Agama islam berkembang pesar di Indonesia dan menjadi agama yang mendapat penganut sebagian besar penduduk Indonesia. Dengan begitu, agama islam memberi saham yang besar bagu perkembangan kebudayaaan dan kepribadian bangsa Indonesia.

Kebudayaan Barat
Unsur kebudayaan yang juga member warna terhadap corak lain dari kebudayaan dan kepribadian bangsa Indonesia. Awal kebudayaan barat masuk ke Negara tercinta ini ketika kaum kolonialisme menggedor masuk ke Indonesia terutama belanda yang menjajah Indonesia selama 350 tahun. Dalam kurun waktu itu juga dikota-kota pusat pemerintahan terutama di Jawa, Sulawesi Utara dan Maluku berkembang dua lapisan social. Lapisan pertama terdiri dari kaum buruh. Lapisan kedua adalah kaum pegawai. Akhirnya masih harus disebut pengaruh kebudayaan eropa yang masuk juga kedalam kebudayaan Indonesia ialah agama katolik dan kristem protestan.

Kebudayaan dan Kepribadian
Berbagai penelitian antropologi budaya menunjukkan, bahwa terdapat korelasi diantara corak-corak kebudayaan dengan corak-corak kepribadian anggota-anggota masyarakat, secara garis besar. Opini umum juga menyatakan bahawa kebudayaan suatu bangsa adalah cermin dari kepribadian bangsa yang bersangkutan. Nilai dan kaidah berisikan harapan-harapan masyarakat, perihal perilaku yang pantas. Suatu kaidah misalnyakaidah hokum memberikan batas-bats pada perilaku seseorang, batas-batas tersebut menjadi suatu “aturan permainan” dalam pergaulan hidup. Sebaliknya segala yang berbda dari corak kebudayaan mereka, dianggap rendah, aneh , kuramg susila, bertentangan dengan kodrat alam, dan sebagaiannya. Contoh : Di Indonesia pada umumnya, apabila seorang wanita hamil tidak mempunyai suami ia adalah profil seseorang yang telah melanggar adat dan norma masyarkat pada umumnya. Akan tetapi jika contoh tersebut terjadi di Negara Barat atau neegara komunis mungkin dianggap biasa saja, itu karena system kaidah orang-orang barat dan komunis membenarkan kebiasaan tingkah laku seperti itu.

Pranata Sosial dan Institusionalisasi
Untuk menjaga agara hubungan antar anggota masyarakat dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan, maka di dalam masyarakat dibedakan adanya ; cara atau “usage” (kebiasaan) atau “folkways”; tata kelakuan atau “mores”, dan adat istiadat “costom”. Usage menunjukkan pada suatu bentuk perbuatan, kekuatan mengikatnya sangat lemah bila dibandingkan folkways. Folkways diartikan sebagai perbuatan yang berulang-ulang dalam bentuk yang sama, yang diikutinya kurang berdasarkan pelikiran dan mendasarkan pada kebiasaan atau tradisi yang diterjemahkan dengan kebiasaan. Mores diikuti tidak hanya secara otomatis kurang berpikir, tetapi karena dihubungkan dengan suatu keyakinan dan perasaan yang dimiliki oleh anggota masyarakat. Costom atau adat istiadat adalah tata kelakuan yang kekal dan kuat integritasnya dengan pola-pola perilaku masyarakat. Norma-norma tersebut setelah mengalami proses tertentu pad akhirnya akan menajdi bagian tertentu dari lembaga kemasyarakatan. Proses tersebut dinamakan proses institusionalisasi, yaitu suatu proses yang dilewati oleh norma kemasyarakatan yang baru untuk menjadi bagian dari salah satu lembaga kemasyarakatan, sehingga norma tersebut oleh masyarakat diterima, dihargai dan kemuadian di patuhi dalam mengatur kehidupan sehari-hari.
Dr. Koentjaraningrat membagi lembaga social kemasyrakatan menjadi 8 macam yaitu:
1.     Pranata yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan kehidupan kekerabatan atau Domestic Institutions
2.     Pranata yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia untuk mata pencaharian hidup atau Economic Institutions
3.     Pranata yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan ilmiah manusia atau Scientific Institutions
4.     Pranata yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan atau Edutcational Institutions
5.     Pranata yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan ilmiah , menyatakan rasa keindahan dan rekreasi atau Aesthetic and recreational Institutions
6.     Pranata yang bertujuan memenuhi kebutuhan manusia untuk berhubungan dengan Tuhan atau alam gaib (Religious Institutions)
7.     Pranata yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia untuk mengatur kehidupan berkelompok atau bernegara (Political Institutions)
8.     Pranata yang bertujuan mengurus kebutuhan jasmaniah manusia atau Cosmetic Institutions 



A.    STUDI KASUS
Indonesia merupakan salah satu negara terpadat di dunia yang mempunyai penduduk yang sangat banyak. Kepadatan penduduk semakin meningkat di beberapa kota besar negara Indonesia terutama di ibukota negara Indonesia yaitu jakarta yang memang adalah kota terpadat di Indonesia. Jakarta merupakan ibu kota indonesia  yang banyak menarik pendatang dari dalam negeri maupun luar negeri. Jakarta pun merupakan pusat pemerintahan, pusat bisnis dan keuangan. Tak heran jika kota ini terpadat karena banyaknya transmigran yang bertransmigrasi ke kota Jakarta. Begitu juga masyarakat yang melakukan urbanisasi dari desa ke kota Jakarta.
Dengan jumlah dan persentase penduduk perkotaan yang semakin besar dan semakin padat tersebut tentu akan menambah “beban hidup” perkotaan yang semakin berat sehingga menimbulkan berbagai permasalahan yang semakin kompleks di bidang-bidang sosial-ekonomi, sosial-budaya, politik-pemerintahan, ketertiban dan keamanan, dan sebagainya. Diantara berbagai permasalahan tersebut yang menonjol diantaranya adalah yang berhubungan dengan kemiskinan perkotaan yang meliputi kondisi, karakteristik, kebijakan sarana-prasarana lingkungan, dan aspek-aspek lainnya yang terkait
Jumlah penduduk yang terus bertambah tentunya memerlukan tempat tinggal, sedangkan lahan yang tersedia sangat terbatas. Terbatasnya lahan untuk mendirikan tempat tinggal menyebabkan harga rumah atau mungkin lahan untuk membangun rumah menjadi sangat mahal. Bagi masyarakat yang tidak mampu membeli rumah di tengah kota dengan harga mahal memaksa mereka untuk mendirikan rumah di bantaran sungai atau dipinggir rel kereta api. Pembangunan pemukiman di bantaran sungai jelas mengganggu ekosistem sungai. Masyarakat yang tinggal di sana selalu membuang sampah rumah tangga mereka ke sungai, seperti sampah plastik, kertas, limbah organik dan anorganik hingga kotoran manusia. Sampah yang dibuang terus-menerus ke dalam sungai mengakibatkan terjadinya pendangkalan sungai. Ini adalah masalah yang serius, karena volume air yang dapat ditampung sungai akan menurun, sedangkan volume air terus meningkat, misalnya pada saat musim hujan. Karena sungai tak mampu lagi menampung air tersebut, akhirnya sungai pun meluap dan mengakibatkan banjir diarea pemukiman sekitar bantaran kali dan bahkan lebih luas lagi. Dampak yang sama juga ditmbulkan dari pembangunan pemukiman yang terus menerus di perkotaan. Kebutuhan lahan untuk membangun tempat tinggal bagi masyarakat yang terus bertambah mengakibatkan daerah resapan air semakin berkurang. Hal ini menyebabkan banyak air yang tidak dapat masuk ke tanah. Selain itu banyak sampah yang menumpuk di drainase air serta got yang mengakibatkan air menjadi tersumbat dan tidak bisa mengalir dengan lancar. Semua itu merupakan dampak yang akibatkan karena padatnya jumlah penduduk.

Sumber : http://paraaaaaah.blogspot.co.id/2014/10/pengertian-penduduk-dan-kebudayaan.html

Opini :
Menurut pendapat saya selaku warga negara Indonesia, lonjakan penduduk yang semakin naik harus segera diatasi dan di sorot, hal itu juga sebaiknya disadari oleh kita sendiri bahwa membeludaknya penduduk juga membawa kerugian kepada kita. Permasalahan secara garis besar terjadi karena urbanisasi, angka kelahiran lebih besar dari angka kematian dan tidak terlaksananya program pemerintah seperti KB.